- SEMANTIC
The word semantics is derived from the Greek semaino,
meaning, to signify or mean. Semantics is part of the larger study of signs,
semiotics. It is the part that deals with words as signs (symbols) and language
as a system of signs (words as symbols)." (Hipkiss, 1995:ix)
Menurut Hipkiss kata semantik diambil dari Yunani Semaino, yang bermakna
Menandai atau memaknai. Semantik adalah bagian dari bidang studi tentang makna
yang lebih luas yaitu semiotics. Semantik juga bagian yang membahas tentang
simbol, tanda dan bahasa sebagai satu kesatuan sistem simbol.
Sementara itu, Saeed (2003:3) secara ringkas memaknai semantik sebagai berikut:
“Semantics is the study
of meaning communicated through language.”
Lebih pendek lagi, Hurford dan Heasley (1983:1) mendefinisikan semantik
dengan sangat sederhana, mereka mengatakan: "Semantics is the study of
meaning in Language."
Selain itu, Palmer (1976:1) memaknai semantik sebagai salah satu bagian dari cabang ilmu linguistics. Ia menjelaskan bahwa:
"Semantics is the technical term used to refer to the study of
meaning, and since meaning is a part of language, semantics is a part of
linguistics."
Menurut Palmer, semantik adalah istilah yang digunakan yang mengacu pada ilmu bidang makna, dan karena makna adalah bagian dari bahasa, maka semantik adalah bagian dari cabang ilmu linguistik.
Sebenarnya masih banyak lagi pakar-pakar bahasa, para ahli bahasa, para ahli linguistik yang memberikan beberapa definisi atau makna semantics tersebut. Akan tetapi semuanya rata-rata mengungkapkan bahwa semantics adalah bagian dari ilmu bahasa yang membahas tentang makna.
- Symbol and referent
Symbol merupakan unsur linguistik berupa kata, kalimat, dan sebagainya;
yang menunjuk kepada nenda, situasi, peristiwa, dan sebagainya. Dalam kalimat
“Ini bagus”. Hanya kata “Ini” merupakan satu symbol jika kata “ini” merujuk ke
suatu benda, situasi, peristiwa, misalnya sebuah buku, sebuah baju, dan
sebagainya. Kata “bagus” tidak memiliki fungsi simbolik karena kata “bagus”
hanya melayani ungkapan sikap. Bagi Richards dan Ogden kata-kata yang
menyatakan perasaan, sikap, harapan, impian, dan sebagainya tidak termasuk
dalam pengertian symbol. Kata-kata tersebut (yang menyatakan perasaan, sikap,
harapan, impian, dan sebagainya) dikelompokkan ke dalam “bahasa emotif”.
Bahasa simbolik yang didefinisikan oleh Richards dan Ogden ialah bahasa
yang sesuai dengan fakta atau bahasa kefaktaan. Sedangkan, bahasa emotif
memiliki kegunaan dalam proses komunikasi untuk membangkitkan sikap yang
diharapkan dari orang lain atau untuk mendorong orang lain bertindak dan
sebagainya.
Referent adalah objek atau
sesuatu yang berada di luar bahasa. Referent merujuk sesuatu diluar otak manusia dan berada di dunia ini.
Jika kita mempergunakan simbol, maka kita merujuk kepada referent,
misalnya, apa itu, dimana itu, kapan itu, siapa itu, yang berada didunia
nyata. Sebagaimana yang dikutip oleh Parera (1990: 43)
Richards dan Ogden menyatakan adalah penting untuk menemukan referent agar
diketahui apakah suatu reference benar atau tidak. Dan jika reference benar,
maka ia merujuk kepada fakta (if a reference “hangs together” in the way the
actual referent hangs together, the reference is true and refers to a fact).
Ogden dan Richard menyatakan penting untuk menenukan referent agar diketahui apakah satu reference benar atau tidak. Dan jika reference benar, maka ia merujuk kepada fakta. Mereka mengatakan terdapat reference yang kompleks karena beberapa reference dihubungkan satu dengan yang lain.
Hubungan antara kata (symbol) dengan makna (reference)nya bersifat
arbriter, artinya, tidak ada hubungan wajib antara deretan fonem pembentuk kata
itu dengan maknanya. Namun, hubungan bersifat konvensional. Artinya, disepakati
oleh setiap anggota masyarakat suatu bahasa untuk mematuhi hubungan itu; sebab
kalau tidak, komunikasi verbal yang dilakukan akan mendapat hambatan.
- Euphemism
A euphemism is “the substitution of a mild, indirect or vague term
for one considered to be harsh, blunt, or offensive”. Sometimes called
doublespeak, a euphemism is a word or phrase which pretends to communicate but
doesn’t. It makes the bad seem good, the negative seem positive, the unnatural
seem natural, the unpleasant seem attractive, or at least tolerable. It is
language which avoids, shifts or denies responsibility. It conceals or prevents
thought.
Doublespeak
was one of the central themes of George Orwell’s famous novel, 1984,
although he didn’t use that term, instead he used the terms “doublethink” and
“newspeak”.
Here are some particularly amusing examples, except where downright
offensive.
1. You
aren’t poor, you are economically disadvantaged.2. You aren’t broke, you have temporary negative cash flow.
3. You do not live in a slum but in substandard housing, or in an economically depressed neighborhood, or culturally deprived environment.
4. If you are managing company stakeholders, that means you are lobbying, which is really the same as bribing.
Euphemisms are often used in everyday speech to soften difficult situations.
Example 1
We have to let you go, Tyler.
To “let someone go” is to fire someone. This is a euphemism that sounds much nicer than the harsh truth of the situation.
Example #1
Examples of euphemism referring to sex are found in William Shakespeare’s “Othello” and “Antony and Cleopatra”. In “Othello”, Act 1 Scene 1, Iago tells Brabantio:“I am one, sir, that comes to tell you your daughter and the Moor are now making the beast with two backs.”
Here, the expression “making the beast with two backs” refers to the act of having sex.
Similarly, we notice Shakespeare using euphemism for sexual intercourse in his play “Antony and Cleopatra”. In Act 2 Scene 2, Agrippa says about Cleopatra:
“Royal wench!
She made great Caesar lay his sword to bed.
He plowed her, and she cropped.”
The word “plowed” refers to the act of sexual intercourse and the word “cropped” is a euphemism for becoming pregnant.
Function of Euphemism
Euphemism helps writers to convey those ideas which have become a social taboo and are too embarrassing to mention directly. Writers skillfully choose appropriate words to refer to and discuss a subject indirectly which otherwise are not published due to strict social censorship e.g. religious fanaticism, political theories, sexuality, death etc. Thus, euphemism is a useful tool that allows writers to write figuratively about the libelous issues.referns :
http://delapan12.blogspot.co.id/2010/06/makna-sebagai-arti-dan-referensi.html
https://en.wikipedia.org/wiki/Referent
http://literarydevices.net/euphemism/
sorry too brief explanation of the diagram for help in clarifying his triengle....
BalasHapus